Uta Kelo: Dari Kuliner Rumahan Hingga Identitas Kuliner Sulawesi Tengah

Uta Kelo: Dari Kuliner Rumahan Hingga Identitas Kuliner Sulawesi Tengah


http://kitabmasakan.com/wp-content/uploads/2011/04/uta-kelor.jpg
Uta Kelo (Sayur Kelor) adalah salah satu kuliner khas masyarakat Sulawesi Tengah. Kuliner yang satu ini identik dengan kehidupan salah satu suku terbesar yang mendiami kawasan Sulawesi Tengah yaitu suku Kaili. Cita rasanya yang khas dan unik menjadikannya sebagai salah satu identitas kuliner Sulawesi Tengah.

Uta Kelo berasal dari bahasa Kaili yang artinya Sayur Kelor. Sesuai dengan namanya, Uta Kelo adalah kuliner yang menggunakan daun kelor sebagai bahan utamanya. Tanaman Kelor (Merunggai) dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah. Tanaman ini biasanya tumbuh liar dan dapat tumbuh hingga mencapai 11 meter. Oleh masyarakat, tanaman ini dijadikan sebagai pagar pembatas lahan atau tanaman pekarangan. Daun dan buah tanaman ini dapat diolah menjadi bahan makanan.

Uta Kelo adalah kuliner yang berbahan dasar daun kelor dengan kuah santan kental. Sebagai pelengkap, biasanya ditambahkan irisan terung muda, pisang muda, dan lamale (udang halus). Kuah santan yang gurih, daun kelor yang segar, terung/pisang muda dengan tekstur yang lembut, dan rasa lamale yang khas menjadikan Uta Kelo sebagai salah satu menu wajib bagi masyarakat suku Kaili. 


Beberapa daerah di Indonesia selain Sulawesi Tengah juga memanfaatkan kelor sebagai bahan dasar kuliner. Di Sulawesi Selatan, daun kelor dimasak menjadi sayur bening. Di daerah lainnya, buah kelor atau yang biasa disebut kelantang juga dijadikan sebagai bahan makanan. Walaupun terdapat beberapa kuliner yang berbahan dasar dari tanaman kelor di daerah lain, namun cita rasa dan penyajian Uta Kelo yang khas dan unik membuat kuliner yang satu ini memiliki ciri khas  dan keunikan tersendiri.

To Kaili (sebutan bagi masyarakat suku Kaili) biasanya menyajikan Uta Kelo bersama nasi jagung atau yang biasa disebut dengan talebe. Sebagai pelengkap, biasanya juga dihidangkan penja/duo (sejenis ebi), dan bau tunu (ikan bakar). Berbeda dengan Kaledo yang biasanya dihidangkan pada acara-acara tertentu, Uta Kelo menjadi menu rumahan yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat. 

Cita rasa yang nikmat membuat kuliner yang satu ini tidak hanya dikonsumsi oleh To Kaili saja. Kuliner ini juga dikonsumsi oleh masyarakat dari etnis lain yang bermukim di Sulawesi Tengah seperti Bugis, Mandar, Jawa, dan lain-lain. Proses akulturasi budaya turut andil dalam membuat kuliner yang satu ini diterima oleh lidah masyarakat “pendatang” di Sulawesi Tengah. 

Proses akulturasi tersebut pula yang kemudian melahirkan berbagai cerita menarik seputar Uta Kelo dan tanaman kelor itu sendiri. Cerita-cerita tersebut dikemas dalam bentuk mitos, jargon, bahkan joke lucu. Pemitosan yang satu ini muncul dari masyarakat suku Kaili. Masyarakat suku Kaili percaya bahwa tidak boleh memasak atau memakan Uta Kelo pada saat ada orang meninggal. Jika hal tersebut dilanggar, mereka percaya bahwa di dalam Uta Kelo tersebut nantinya akan terdapat anggota tubuh orang yang meninggal tersebut seperti kuku, rambut, gigi, dan lain-lain. 

Meski terkesan tidak rasional, toh mitos tersebut sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat. Belum ada pembuktian secara ilmiah untuk mengkaji mitos tersebut. Penulis berasumsi bahwa di balik mitos tersebut aada sebuah pesan yang tersirat bahwa ketika ada orang yang meninggal kita wajib melayat ke rumah duka, bukannya malah memasak atau makan di rumah. Adab menghormati orang yang telah meninggal ini menurut penulis, diejahwantahkan dalam mitos ini. 

Mitos yang lainnya berkaitan dengan tanaman kelor yaitu ranting atau batang kelor. Masyarakat percaya bahwa jika seseorang dipukul dengan ranting atau batang kelor, maka orang tersebut akan terkencing-kencing. Tentu saja apa yang dikatakan dalam mitos ini rasional sebab orang yang dipukul dengan kayu atau semacamya pasti akan menimbulkan rasa sakit yang sangat bahkan bisa sampai terkencing-kencing. 

Mitos berikutnya yang sering juga dijadikan lelucon oleh masyarakat adalah “orang yang memiliki susuk atau ilmu gaib, tidak bisa makan kelor, sebab susuk atau ilmunya akan hilang”. Di beberapa daerah, kelor dianggap sebagai pantangan bagi orang yang menggunakan susuk, dan memiliki ilmu gaib. Kelor dipercaya dapat menetralisir bahkan menghilangkan pengaruh susuk atau ilmu gaib tersebut. Ketika ada orang dari luar Sulawesi Tengah ingin mencoba Uta Kelo, biasanya diberitahu dulu seperti ini, “bae-bae le hilang komiu punya ilmu gara-gara komiu makan ini uta kelo” (hati-hati hilang ilmu mu (gaib/susuk) gara-gara kamu makan sayur kelor. Pada beberapa daerah, daun kelor juga tidak dikonsumsi dengan alasan daun kelor biasa digunakan untuk memandikan jenazah.   

Terlepas dari berbagai pemitosan tentang tanaman kelor dan Uta Kelo. Kuliner yang satu ini telah mendapat tempat di hati setiap orang yang pernah mencicipinya hingga terbersit keinginan untuk kembali mencicipinya. Bagi para pelancong yang datang ke Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, ada sebuah mitos unik yang kemudian dijadikan jargon bahwa “orang dari luar Palu yang sudah pernah makan uta kelo, pasti akan kembali ke Palu lagi atau bahkan tinggal menetap di Palu”. Atau “belum dikatakan datang ke Palu kalau belum mencicipi Uta Kelo”. 

Kehadiran mitos-mitos dan jargon-jargon tersebut justru makin meningkatkan nilai jual kuliner yang satu ini dan menggugah rasa penasaran orang dari luar Sulawesi Tengah untuk mencicipi kuliner tersebut. Peluang inilah yang dilihat oleh beberapa usaha kuliner di Kota Palu, mulai dari usaha yang berskala rumahan sampai usaha yang berskala besar dengan menghadirkan Uta Kelo sebagai salah satu menu andalannya.

Seiring dengan mulai maraknya usaha kuliner di Kota Palu, mulai dari catering, prasmanan, penjual makanan di kaki lima, hingga usaha warung makan, rumah makan, hingga restoran, kuliner lokal mulai mendapat tempat untuk merambah pasar kuliner Kota Palu. Dulu kita tidak dapat menemukan penjual makanan, warung makan, hingga restoran yang menyediakan kuliner lokal seperti uta kelo hingga kita harus memasak sendiri jika ingin mencicipi makanan tersebut. Sekarang, kuliner lokal termasuk uta kelo dapat kita temukan mulai dari penjual makanan kaki lima hingga restoran. 

Hal ini menjadi bukti bahwa kuliner lokal seperti uta kelo telah menjadi “tuan rumah di negerinya sendiri”. Restoran dan rumah makan berskala besar di Kota Palu tidak lagi ragu menyajikan kuliner lokal kepada pengunjungnya. Cita rasa yang khas serta penyajian yang unik menjadi nilai plus tersendiri bagi kuliner lokal untuk menjadi identitas daerah. Bahkan ada restoran dan rumah makan yang khusus menyediakan kuliner lokal seperti Uta Kelo.     
                  


Berbagai cerita menarik mengiringi perjalanan Uta Kelo sebagai salah satu identitas kelokalan Sulawesi Tengah. Kuliner yang satu ini pada awalnya “hanya” menjadi menu rumahan yang selalu ada di meja makan. Tetapi kini, ia telah menjadi duta sekaligus identitas Sulawesi Tengah yang siap diperkenalkan ke mana saja. Uta kelo telah bertransformasi dari kuliner rumahan menjadi identitas daerah. Tentu menjadi tugas kita semua untuk memperkenalkan kuliner lokal seperti uta kelo sebagai kuliner khas Sulawesi Tengah kepada semua pihak. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang cinta dengan kekayaan budaya lokal tersebut?   

Post a Comment

4 Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. terima kasih atas informasinya, bisa juga mampir ke artikel mengenai pinjaman cepat jika berkenan. terima kasih banyak

    ReplyDelete