Vatutela: Sejarah Besar Dari Daerah Kecil (2)

Vatutela: Sejarah Besar Dari Daerah Kecil (2)

Vatutela: Dari Tujuan Migrasi hingga Kampung dalam Kelurahan
Nama Vatutela disebut dalam buku Bamba Toraranga sebagai tempat Makagero berburu. Makagero pulalah yang menamakan tempat tersebut dengan nama Vatutela. Nama Vatutela berasal dari kata Vatu yang berarti Batu dan Tela yang berarti menyala. Kata Tela yang diambil dari kata Potela yang artinya dinyalakan menjadi api atau Potelavaru yang artinya dinyalakan menjadi api menggunakan Faru. Faru adalah bahan yang diambil dari pelepah daun enau yang menjadi korek api yang dipergunakan oleh Suku Kaili bahkan hingga masa pendudukan Jepang.    

Menurut Muslima, orang-orang dari Uesama ini bermigrasi ke dua wilayah yaitu Vatutela dan Poboya. Kelompok yang bermigrasi ke Vatutela adalah kelompok masyarakat biasa yang berprofesi sebagai petani ladang. Mereka membuka lahan di kawasan Uwelira, yang terletak di sebelah timur Vatutela. Uelira ini dipercaya oleh masyarakat Vatutela sebagai cikal bakal kampung Vatutela sekarang. 


Kelompok yang bermigrasi ke Poboya, menurut Muslima adalah mereka yang tergolong kelas bangsawan. Mereka dipimpin oleh Papa Salangka yang tidak lain adalah saudara sepupu dari Makagero. Papa Salangka sendiri kemudian pindah lagi dari Poboya untuk menetap di Siranindi. 

Keterangan mengenai migrasi ke daerah Poboya ini dapat dilihat dari keterlibatan pasukan dari Poboya yang dipimpin oleh Papa Salangka dalam peristiwa di Popalego yaitu pembunuhan atas Timbaluka. Timbaluka adalah Tadulako dari Pelawa yang sangat disegani pada masa pemerintahan Makagero. Namanya dikenal di mana-mana karena keahliannya dalam berperang. Ia digelari Sandepo Bambara karena dadanya yang sangat lebar. Kemampuannya dalam berperang. membuat Raja Parigi merasa terancam dengan keberadaannya. Ia khawatir jika sewaktu-waktu Timbaluka datang menyerangnya. 

Raja Parigi kemudian membuat sebuah siasat dengan cara memfitnah (menjelek-jelekkan) Timbaluka kepada sepupunya Papa Salangka yang berada di Siranindi[1]. Mereka pergi ke Siranindi membawa dampo durian sebagai ole-ole. Kedatangan mereka disambut baik oleh Papa Salangka dan mereka pun memulai pembicaraan. 

Pada saat pembicaraan telah menjurus ke hal yang serius, salah seorang utusan mengatakan bahwa Timbaluka sudah menjadi buah bibir masyarakat di Parigi karena telah memperkosa istri orang. Olehnya itu mereka meminta pendapat Papa Salangka bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Papa Salangka pun mengatakan bahwa sudah menjadi tradisi nenek moyang kita bilamana ada salah satu orang keluarga yang melakukan kesalahan yang tidak dapat diampuni lagi oleh keluarga dan masyarakat, maka keluarga terdekat sangat malu apabila orang lain yang membunuhnya. Papa Salangka menganjurkan bahwa sebaiknya Timbaluka dibunuh saja oleh keluarga sebelum dibunuh oleh orang luar dan sekiranya rombongan dari Parigi tidak berani melakukannya, maka serahkanlah saja pada kami untuk membunuhnya. 

Setelah kedua pihak bersepakat, Papa Salangka dengan pasukannya dari Poboya berangkat ke Parigi untuk membunuh Timbaluka. Adapun cara membunuh Timbaluka dilakukan dengan tipu muslihat, yakni mengundang Timbaluka untuk melatih cara-cara berperang dengan ketentuan tidak boleh membawa senjata yang terbuat dari besi, kecuali Tarampa, yakni sejenis guma yang terbuat dari Nibong. Tempat kejadian pembunuhan Timbaluka disebut Popalego karena disitulah tempat bergabungnya rombongan dari Poboya dengan rombongan dari Parigi.

Perjalanan migrasi dari Uesama ke Vatutela melewati rute Uesama-Aya (Pemaya)-Uvelira. Selain ke Vatutela, mereka juga bermigrasi ke Poboya dan Bale. Diperkirakan migrasi ini dimulai pada abad ke 15 berdasarkan fakta bahwa Makagero memerintah sejak 1517 dan jika dilihat masa pemerintahan kepala suku Polimbu Ada yang merupakan ayah dari Makagero. Selain itu, saat terjadi peristiwa Popalego, Poboya telah ditempati oleh masyarakat dari Uesama yang dipimpin oleh Papa Salangka. 

Mereka yang bermigrasi dari Uesama ke Vatutela bekerja sebagai petani ladang. Mereka berkebun dengan menanam padi ladang, jagung, dan pisang. Ada sebagian yang beternak dan tinggal di dataran yang lebih landai di bawah.


[1] Siranindi pada saat itu menjadi Pusat Pemerintahan Kerajaan Palu. Nanti pada saat pemerintahan Raja Yodjokodi, pemerintahan dipusatkan di Kampung Lere.

Post a Comment

0 Comments